Jarum jam dinding di sudut kamar menunjukkan pukul 05:00 dini hari. Bima perlahan membuka matanya, mengerjap melawan rasa kantuk yang luar biasa berat, sebuah efek samping dari akumulasi obat-obatan keras yang harus ia konsumsi setiap harinya untuk bertahan hidup. Hal pertama yang tertangkap oleh indra penglihatannya yang masih kabur adalah sosok Amelia. Istrinya itu meringkuk di sampingnya, tubuhnya melengkung kecil seolah sedang berusaha menyembunyikan diri dari dunia. "Kapan dia pulang?" bisik Bima dengan suara parau yang nyaris tak terdengar. Bima memandang Amelia dengan tatapan yang merupakan campuran antara pemujaan yang suci dan rasa bersalah yang menghujam jantung. Di bawah cahaya lampu tidur yang remang dan mulai meredup, wajah Amelia tampak sedikit pucat, hampir menyerupa

