Bab 47: Semburat Bahagia di Atas Fondasi yang Rapuh.

1316 Kata

Minggu pagi itu, langit Jakarta tampak sedang berbaik hati. Biru cerah membentang luas tanpa kepungan mendung yang biasanya menggantung kelabu. Semilir angin berembus cukup sejuk, membawa aroma tanah basah sisa embun yang sanggup menyamarkan hawa panas aspal dan polusi kendaraan. Seolah-olah alam sedang memberikan jeda bagi jiwa-jiwa yang sedang letih. Bima tampak duduk di tepi tempat tidur, mencoba menggerakkan kakinya yang masih kaku dengan penuh semangat. Ada rona kehidupan yang kembali muncul di wajahnya yang tirus. "Sayang, bagaimana kalau hari ini kita ke taman kota sebentar? Aku bosan terus-terusan di kamar, aku ingin menghirup udara segar," ucap Bima. Ia menarik napas dalam, seolah tubuhnya merasa cukup kuat untuk melangkah lebih jauh dari sekadar teras belakang rumah yang s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN