Matthias membuka mata, kesadaran kembali membawanya ke realitas yang tak terduga. Ia terkejut melihat Ethan duduk di sampingnya, tatapan teduh yang menusuk jiwa. Matthias bangkit, mengusap wajahnya dengan kasar, mencoba menyembunyikan raut wajah menyedihkan itu. "Maaf, aku nggak tahu kalau Om yang datang," katanya dengan nada rendah. Ethan tidak menjawab, matanya terus menatap Matthias dengan tatapan yang dalam. Ia menyaksikan tumbuh kembang anak ini dari sejak lahir, pria yang sangat bisa diandalkan dengan segudang prestasi yang membuat bangga. "Papamu itu dulu incaran para wanita, Matth," ucap Ethan tiba-tiba, suaranya yang dalam membawa kenangan lama. "Dia tidak perlu repot-repot mencari perhatian, semua wanita akan menyukainya." Matthias meliriknya, mencoba menerka apa yang memba

