Selalu Hangat

1130 Kata

Sore itu matahari belum sepenuhnya turun ketika suara motor Juna terdengar memasuki halaman. Setelah gonjang-ganjing hutang Dewa sedikit ringan, Juna memutuskan untuk membeli motor, bekas tapi asal bisa dipakai. Asal bisa ia bawa untuk bekerja. Lili yang sedang merapikan meja makan refleks menoleh ke arah pintu. Ada kebiasaan kecil yang tak pernah ia sadari menunggu suara itu, lalu bernapas lebih lega setelahnya. Pintu terbuka. Juna masuk dengan senyum tipis, jaket bengkel masih melekat di tubuhnya. Di tangannya ada sebuah kantong kertas kecil. “Kok senyum-senyum?” tanya Lili sambil mendekat. Juna menggaruk tengkuknya. “Nggak boleh?” “Boleh. Tapi kelihatan mencurigakan,” goda Lili. Juna tertawa kecil, lalu menyerahkan kantong itu. “Buat kamu.” Lili terdiam sesaat. “Apa ini, Mas

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN