Juwita merasa lega karena saat ini, ia sudah diizinkan mengemudi lagi. Arsyila tak perlu menemaninya lagi ke mana-mana. Serangan pusingnya sudah berkurang drastis, bahkan selama sebulan terakhir, ia tak lagi mengalami vertigo atau sensitivitas terhadap cahaya sama sekali. Pagi itu, ia akan mengemudi ke Ciamis sendiri. Juwita memilih mengenakan jeans biru dan sweater rajut berwarna marun gelap, ditambah jaket untuk menghalau dingin. Kedua anaknya pun berpakaian serupa. Di luar, si kembar tengah berlari-larian, menghembuskan napas hingga muncul asap. “Bu, lihat! Nafas kita bisa kelihatan!” seru Zayyan. Mereka kemudian saling berlomba siapa yang bisa membuat kabut paling besar. Juwita tersenyum melihat tingkah mereka. “Ibu tidak ikut?” tanya Zayn. “Ibu pasti menang,” jawabnya ringan.

