Air mata masih menetes pelan di pipi Nayla. Ia menundukkan kepalanya. Tangannya menggenggam ujung baju rumah yang warnanya sudah hampir pudar itu. Kadang… saat ia benar-benar lelah menjalani semuanya sendirian… pernah terlintas keinginan di hatinya. Untuk mendatangi Zayn. Dan mengatakan semuanya. Tentang Rian. Tentang anak yang lahir dari hubungan mereka dulu. Anak yang wajahnya semakin hari semakin mirip dengan Zayn. Namun setiap kali pikiran itu muncul… Nayla selalu kembali teringat pada perkataan ibunya. "Jangan sembarangan memberi tahu mereka, Nay." "Orang-orang seperti mereka bisa saja hanya menginginkan anaknya saja." "Lalu bagaimana dengan kamu?" Kalimat itu selalu membuat Nayla terdiam. Ia terlalu mengenal keluarga Zayn. Terutama ibunya. Wanita itu tidak pernah m

