Pukul empat lewat empat puluh lima pagi, alarm ponsel Demian berbunyi pelan, tapi cukup nyaring untuk membuatnya terbangun. Ia menggeliat pelan. Tangannya yang satu masih berada di bawah bantal kepala Leah yang terlelap di sampingnya. Napas istrinya itu terdengar lembut dan tenang. Hari ini hari Senin. Baru dua hari mereka menikah, tapi rutinitas sudah kembali menanti. Leah harus masuk koas di rumah sakit, dan ia sendiri harus kembali ke kantor. Tidak ada bulan madu mewah, belum ada. Tapi mereka cukup bahagia bisa menghabiskan dua hari pertama pernikahan di rumah, dekat dengan keluarga. Tapi mereka punya rencana untuk menghabiskan weekend weekend selanjutnya hanya berdua, bisa di apartemen milik keluarga Leah, di hotel, di Bogor, di Bandung, atau di Puncak, tinggal pilih. Setidaknya itu m

