Aldo masih berdiri di tempatnya. Namun pikirannya… sudah jauh melenceng. Sunyi di ruangan itu justru membuat suara di kepalanya semakin jelas. Semakin bising. Tangannya mengepal. Rahangnya mengeras. “...sial.” Namun kali ini, umpatan itu bukan untuk Gerald. Melainkan untuk orang lain. Ririn. Tanpa sadar, nama itu muncul lagi. Seolah semua jalan buntu yang ia hadapi… selalu bermuara ke sana. “Kalau saja dia tidak muncul lagi di perusahaan itu…” gumamnya pelan. Tatapannya mengeras. “Gerald tidak akan menginginkannya lagi.” Logika yang ia bangun sendiri, terdengar begitu masuk akal di kepalanya. Padahal… sepenuhnya salah. Aldo mengembuskan napas kasar. Tangannya menyapu wajahnya. Kesal. Namun bukan pada dirinya sendiri. “Kenapa juga dia harus datang ke sana…” lanjutny

