Ririn menggeleng lemah. Air matanya terus jatuh. Namun kali ini... bukan hanya karena takut. Melainkan karena sesuatu yang mulai kacau di dalam dirinya. “Jadi…” suaranya bergetar, “…semua ini… sudah Anda rencanakan?” Tatapannya naik. Menatap Gerald. Penuh luka. Penuh penolakan. “Sejak awal… Anda memang seperti ini?” Nada suaranya berubah. Lebih tajam. Lebih menyakitkan. “Apakah tidak ada wanita yang mau dengan Anda… jadi Anda harus melakukan cara busuk seperti ini?” Kalimat itu, menghantam. Keras. Untuk pertama kalinya, Gerald benar-benar terdiam. Tatapannya berubah. Tidak lagi hanya dingin. Namun… gelap. Sangat gelap. Dan dalam sekejap... sesuatu di dalam dirinya terusik. Bayangan itu muncul. Tiba-tiba. Jelas. Seolah baru terjadi kemarin. Seorang pria muda

