Ririn masih berusaha menarik tangannya. Namun sia-sia. Genggaman itu terlalu kuat. Tidak menyakitkan, namun tidak bisa dilawan. “Lepaskan…” suaranya mulai melemah, namun tetap penuh perlawanan. Gerald tidak langsung menjawab. Ia justru melangkah mendekat. Satu langkah. Lalu satu lagi. Membuat jarak di antara mereka… benar-benar hilang. Ririn langsung menegang. Punggungnya refleks mundur. Namun tidak ada ruang lagi. Tubuhnya terasa kaku. Napasnya mulai tidak teratur. “Jangan…” bisiknya pelan. Ada ketakutan di sana. Nyata. Gerald berhenti tepat di depannya. Tatapannya turun. Mengamati wajah Ririn. Matanya. Bibirnya. Hingga ke bagian bahu yang sedikit terbuka oleh gaun itu. Dan untuk pertama kalinya, napasnya terasa sedikit berubah. Lebih berat. Lebih dalam. Seo

