Aldo terdiam cukup lama.
Tatapannya kosong beberapa detik, seolah sedang menimbang sesuatu yang bahkan ia sendiri tak ingin pikirkan terlalu dalam.
Lila menunggu.
“Bukankah semua masalah sudah beres?” akhirnya Aldo bersuara, datar namun tegas.
“Aku sudah bebas.”
Ia berdiri, berjalan perlahan mendekati jendela.
“Bagaimanapun juga, Ririn itu sahabatku sejak kecil. Walaupun aku tidak mencintainya…” ia berhenti sebentar, rahangnya mengeras, “aku tidak akan menyerahkannya lagi.”
Ia menoleh pada Lila.
“Tidak akan ada kedua kalinya. Ini transaksi pertama dan terakhir.”
Nada suaranya keras. Penuh keyakinan.
Seolah ia sedang meyakinkan dirinya sendiri.
Lila menatapnya tanpa berkedip.
Di dalam dadanya, sesuatu yang tegang perlahan mengendur.
Bukan karena ia terharu.
Bukan karena ia kasihan pada Ririn.
Melainkan karena satu hal,
Gerald tidak akan mendapat kesempatan kedua.
Dan itu berarti… Ririn tidak akan semakin dekat dengan pria itu.
Lila menarik napas lega.
Namun jauh di dalam hatinya, rasa itu bukanlah empati.
Melainkan cemburu.
Yang ia inginkan bukan Aldo.
Aldo hanyalah pelarian.
Alat pembuktian.
Bukti bahwa ia tidak selalu berada di bawah bayang-bayang Ririn.
Bukti bahwa pria yang dicintai Ririn mati-matian pun bisa berlutut padanya.
Dan setiap kali Aldo datang ke rumahnya, memilihnya, menyentuh tangannya dengan keyakinan,
ada kepuasan yang sulit dijelaskan.
Bukan cinta.
Melainkan kemenangan kecil.
Selama ini Ririn selalu terlihat lebih bersih. Lebih tulus. Lebih diinginkan.
Tapi malam ini?
Suami Ririn justru berada di rumahnya.
Memilihnya.
Dan itu cukup untuk membuat Lila merasa unggul.
Ia melangkah mendekat, menyentuh lengan Aldo dengan lembut.
“Kalau begitu… jangan buat aku menyesal mendukungmu,” ucapnya pelan.
Aldo tersenyum tipis, mengira sentuhan itu lahir dari cinta.
Ia tidak pernah menyadari,
perempuan di hadapannya tidak sedang membelanya.
Ia sedang menghitung langkah.
Karena jika suatu hari Gerald benar-benar menginginkan sesuatu…
Lila tidak akan berdiri diam.
Ia tidak pernah suka kalah dari Ririn.
Dan kali ini, ia tidak akan membiarkan sejarah terulang.
---------
Pintu tertutup pelan setelah Aldo pergi.
Rumah kembali sunyi.
Lila berdiri beberapa detik di ruang tamu, lalu berjalan perlahan ke jendela. Lampu jalan memantulkan bayangannya di kaca, wajah yang tenang, nyaris tanpa cela.
Namun pikirannya bergerak cepat.
Tidak apa-apa.
Pria seperti Gerald biasanya hanya butuh pembuktian.
Ia sudah berhasil memiliki apa yang dulu menolaknya. Sudah menundukkan harga diri yang pernah melukainya.
Itu saja.
Ego.
Bukan cinta.
Lila menyilangkan tangan di d**a.
Semoga setelah ini Gerald lupa dengan obsesinya.
Semoga satu malam itu cukup.
Ia mengenal pria itu cukup lama sebagai atasan.
Gerald bukan tipe yang mengejar terlalu lama sesuatu yang sudah ia dapatkan.
Ia rasional. Terukur. Tidak emosional.
Setidaknya, itu yang ia yakini.
Kalau aku terus berada di sampingnya… lama-lama dia akan sadar juga.
Ia tersenyum tipis.
Apalagi Ibu Gerald sangat menyukainya.
Wanita itu selalu memujinya-sopan, pintar, tahu cara membawa diri. Beberapa kali bahkan terang-terangan berkata, “Andai Gerald memilih perempuan seperti kamu.”
Kalimat itu masih terngiang jelas.
Dan Lila tidak pernah melupakannya.
Ririn mungkin punya masa lalu dengan Gerald.
Tapi ia punya masa depan yang lebih rapi.
Lebih pantas.
Lebih diterima keluarga Gerald.
Ia meraih ponselnya dan menyalakan layar.
Foto itu kembali muncul.
Ia berdiri di samping Gerald.
Sebenarnya bukan foto berdua. Ada beberapa karyawan dari perusahaan lain di sana. Namun dengan sedikit sentuhan, ia sudah menghapus yang lain, menyisakan hanya dirinya dan Gerald dalam satu bingkai.
Kini terlihat seolah mereka memang berdiri berdampingan.
Seolah memang seharusnya begitu.
Saat rasa rindu itu datang, meski tidak pernah benar-benar ia akui, ia cukup membuka galeri dan menatap wajah pria itu.
Setidaknya di dalam foto, Gerald tidak berpaling darinya.
Bibir Lila mengeras sedikit.
Tidak apa-apa.
Ia tidak boleh terlihat cemas. Tidak boleh terlihat mengejar.
Gerald menyukai perempuan yang tenang. Yang tidak menuntut.
Ia akan tetap berada di sisinya. Di kantor. Di setiap rapat. Di setiap perjalanan bisnis.
Pelan-pelan.
Sampai pria itu menyadari bahwa obsesi hanyalah api sesaat.
Dan yang ia butuhkan sebenarnya adalah perempuan yang selalu ada.
Perempuan seperti dirinya.
Namun jauh di sudut hatinya yang paling tersembunyi,
ada ketakutan kecil yang tidak mau ia akui.
Bagaimana jika Ririn bukan sekadar obsesi?
Bagaimana jika malam itu bukan akhir… melainkan awal?
Lila menghapus pikiran itu cepat-cepat.
Tidak.
Ia tidak akan kalah.
Tidak kali ini.
Karena jika harus memilih antara menjadi bayangan atau menjadi pemenang...
Lila sudah memutuskan sejak lama.
Ia tidak pernah puas berada di urutan kedua.
----------
Ririn tertidur dalam pelukannya.
Napasnya teratur, wajahnya pucat namun tenang, seolah tubuhnya menyerah setelah terlalu banyak menanggung beban malam itu.
Gerald tidak langsung bergerak.
Tangannya masih melingkar di tubuh Ririn, dan untuk beberapa detik yang terasa lebih lama dari seharusnya, ia tidak rela melepaskannya.
Keheningan kamar terasa berat.
Tenaga yang terkuras masih menyisakan detak jantung yang belum sepenuhnya stabil. Ia menunduk, memperhatikan wajah Ririn lebih saksama.
Terlalu lelap.
Terlalu dalam.
Keningnya sedikit berkerut.
Ia menyadari sesuatu yang mengganggu, Ririn tidak sekadar lelah. Ada jejak kesadaran yang direnggut paksa. Gerakannya tadi lambat, reaksinya tertunda.
Obat.
Dan jumlahnya tidak sedikit.
Rahang Gerald mengeras.
Ia tidak ingin menjadi pengecut. Tidak ingin menang dengan cara seperti ini.
Namun ia juga tahu, jika Ririn bangun dan mendapati pria lain yang berada di sampingnya dalam kondisi seperti itu, perempuan itu pasti akan hancur.
Dan yang lebih ia takuti...
Ririn bukan tipe perempuan yang hanya menangis lalu diam.
Gerald takut...
Takut Ririn akan berbuat nekat.
Bayangan itu masih jelas di kepalanya.
Saat terdesak, saat merasa tidak punya jalan keluar, Ririn pernah memilih melukai dirinya sendiri daripada menyerah pada keadaan.
Ia masih ingat tatapan kosong itu. Tangan gemetar itu.
Gerald mengepalkan jemarinya.
Ia tidak ingin melihat tatapan itu lagi.
Bukan karena iba.
Atau mungkin… bukan hanya karena iba.
Ia tidak siap kehilangan sesuatu yang bahkan baru saja ia rebut.
Perlahan, Gerald melepaskan pelukannya.
Tubuh Ririn bergeser sedikit di atas seprai putih.
Gerald bangkit dari tempat tidur, menarik napas panjang.
Dan saat itulah matanya tanpa sengaja menabrak noda merah samar di atas kain putih itu.
Ia terdiam.
Senyum tipis, senyum puas terlintas di bibirnya.
Ia adalah yang pertama.
Bukan Aldo.
Namun senyum itu hanya bertahan sesaat.
Status Ririn kembali menghantam kesadarannya.
Istri orang.
Gerald memalingkan wajah, lalu melangkah menuju balkon.
Udara malam menyambutnya. Ia berdiri di sana, gelas minuman di tangannya tidak tersentuh.
Ia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan.
Seharusnya ia puas.
Namun yang terlintas justru wajah Ririn yang setengah sadar.
Dan suara itu.
“Mas Al…”
Rahangnya mengeras.
Ia membenci fakta bahwa nama pria lain keluar dari bibir yang tadi berada begitu dekat dengannya.
Ia seharusnya merasa menang.
Tapi mengapa justru terasa seperti belum cukup?
Gerald memejamkan mata.
Ia tidak menyentuh Ririn untuk berbagi.
Dan pikiran bahwa suatu hari Aldo akan benar-benar menyentuhnya,
membuat sesuatu di dalam dirinya bergejolak, menolak.
Sejak kapan ia menjadi pria yang posesif?
Ia tertawa pelan, pahit.
Ini bukan posesif.
Ini hanya… belum selesai.
Gelas di tangannya ia letakkan di pagar balkon.
Untuk pertama kalinya sejak semua ini dimulai, Gerald sadar,
ia tidak lagi bermain untuk membalas dendam.
Ia bermain untuk memiliki.
Dan jika itu berarti ia harus menghancurkan lebih banyak hal,
maka ia belum akan berhenti.
Bersambung..........