Ruang kerja Hannan terasa lebih dingin dari biasanya. Matahari yang menyusup melalui celah tirai tak mampu menyingkirkan aura kelam yang mengendap di dalam. Pria itu duduk tegak di belakang meja kerja, jas hitamnya masih rapi sempurna, garis wajah seperti ukiran marmer—tenang, tapi menyimpan badai. Ketika Ira masuk, suara ketukan pintu nyaris tak terdengar, namun Hannan segera tahu siapa yang datang. Hanya Ira yang tahu bagaimana masuk tanpa membuat kehadirannya terasa mengganggu. "Duduklah," ujar Hannan, nadanya datar, tapi tajam. "Ini akan jadi pembicaraan yang panjang." Ira menunduk hormat, kemudian duduk sesuai perintah. Perempuan pendiam itu menahan napas. Dia tahu, jika Hannan memanggilnya sepagi ini, sesuatu yang besar tengah terjadi. "Masih pagi dan saya sudah harus disibukkan

