Langit mulai gelap, menyisakan semburat jingga tipis yang mengintip di antara gedung–gedung pencakar langit. Di ruang utama lantai tertinggi Alfaruq Group, suasana menegang. Hannan berdiri membelakangi jendela besar yang memamerkan horizon kota. Bahunya tegap, fokus menatap siluet langit. Ira, berdiri beberapa langkah di belakangnya, menanti dengan gugup sambil membawa berkas yang baru saja dia himpun dari divisi intel. "Saya tahu siapa orangnya," kata Hannan, beresonansi ke seluruh ruangan. "Saya tahu siapa yang ada dibalik semua kekacauan ini." Ira menahan napas. "Maksud Anda orang dalam itu, Pak?" "Pengkhianat," tekan Hannan tanpa ragu. Rahangnya mengeras, dan satu tangannya mengepal. "Orang yang menusuk saya dari belakang." "Lalu apa rencana berikutnya, Pak?" Hannan berbalik, lan

