Andini mengerjapkan mata perlahan. Sinar matahari menelusup masuk dari celah gorden kamar rawat inap, menyinari sebagian wajah bantalnya. Suara obrolan pelan dan dentingan alat medis samar terdengar di sekeliling. Yang membuatnya kaget bukan itu—melainkan suara tawa kecil yang dia kenal baik, tepat di sebelah telinganya. "Nyenyak tidurnya, Sayang?" Suara itu menyapa dengan penuh kemenangan. "Meluk Mas sampai enggak bisa nafas." Refleks, Andini membuka mata. Di hadapannya, tiga orang perawat berdiri sambil tersenyum kaku, baru saja menyelesaikan pemberian obat kepada Hannan yang duduk dengan santai di ranjang. Lelaki itu memasang senyum paling menyebalkan di dunia, membuat Andini langsung sadar situasinya. Wajahnya memanas. Dia baru sadar—mereka tidur begitu dekat, posisi yang—sangat tid

