Lena menyeduh teh tanpa tergesa. Jemarinya yang anggun menuang cairan hangat ke dalam cangkir porselen, sementara mata tajamnya terus mengamati anaknya—Hannan Alfaruq—yang duduk di seberang meja, membisu dengan rahang mengeras. "Kamu tahu apa yang harus dilakukan, Hannan," ucap Lena akhirnya, pelan tapi dalam. Tidak memaksa, hanya menunjukkan arah. "Saya sedang memilih senjata yang paling tepat untuk menusuk balik, Bu. Ini bukan buang–buang waktu." "Baiklah. Pilihlah yang tidak meninggalkan jejak darah di tanganmu sendiri. Karena kali ini, yang dipertaruhkan bukan hanya reputasi, tapi keluarga. Ibu tidak akan biarkan kamu melupakan itu." Sunyi sesaat. Hannan akhirnya mengangguk kecil. "Saya akan mulai dari laporan intel saya. Besok pagi, semua jalur distribusi keamanan diinvestigasi u

