Dekapan erat turut Rainer lakukan. Ia berharap, semua hal yang terjadi saat ini adalah hanya mimpinya belaka. Sekarang, tidak ada lagi dekapan hangat itu. Tidak ada lagi suara orang yang berkata dengan begitu lembut kepadanya. Tiba-tiba saja, Rainer melepaskan dekapannya. Iapun menatap tajam ke arah Robin. Orang yang menurut Rainer, adalah penyebab semua petaka di hidupnya, yang menyebabkan ia kehilangan kasih sayang seorang ibu. "Kenapa bisa, Pa?? Kenapa harus Mama? Kenapa Papa biarkan Mama melakukan hal bodoh begini, Pa!!!" pekik Rainer dengan sangat lantang. Robin bergeming sambil menelan salivanya sendiri. "Mama kamu kehilangan banyak darah, Rai. Papa sudah berusaha mencari donor darah tapi tidak menemukannya dan juga, sebelumnya, Mama kamu, dia memang sudah meminta untuk memberik

