Meski hatinya tahu betapa dalamnya cinta Andra pada Ziva dan betapa gigihnya putranya itu berjuang untuk wanita yang dicintai, Karina tak mau kalah begitu saja. Matanya menyala, tekadnya mengeras, ia sudah memutar otak dengan matang demi malam ini. Mengundang Vania bukan sekadar alasan basa-basi, tujuannya jelas untuk memisahkan mereka. Baginya, Vania jauh lebih pantas untuk Andra daripada Ziva yang dianggapnya membawa pengaruh buruk sang anak. "Ziva, biar saya kenalkan siapa Vania ini," kata Karina dengan nada yang dipenuhi ambisi. Ziva menatap tajam ke arah ibunya Andra, menolak untuk tunduk. "Memangnya dia siapa, Tante?" Karina tersenyum tipis penuh kepuasan. "Vania ini anak sahabat Saya. Dia CEO di Perusahaan Anggara Group, salah satu perusahaan besar di kota ini. Kamu pasti tahu 'k

