Makan siang berlangsung dalam suasana hangat. Sarah bercerita tentang hal-hal ringan, tetangga baru, tanaman di halaman yang mulai berbunga, juga resep lama yang ingin ia ajarkan pada Meylin lain waktu. Meylin menanggapi seperlunya, tersenyum, sesekali tertawa kecil. Byantara lebih banyak diam, memperhatikan, bukan hanya makanan di depannya, tetapi setiap gerak dan ekspresi istrinya. Usai makan, Meylin membantu membereskan meja. Piring-piring dibawa ke dapur, sementara sisa-sisa kehangatan siang itu masih terasa. “Bu, ikut kami ke showroom mobil, ya?” ajak Meylin tiba-tiba. “Sekalian jalan-jalan.” Meylin berpikir, dengan kehadiran sang ibu, suasana canggung antara dirinya dan Byantara bisa sedikit berkurang. Sarah menoleh, tersenyum, lalu menggeleng pelan. “Tidak usah, Nak. Kalian saja

