“Bagaimana kehidupanmu bersama Byantara, Mey?” tanya Sarah pelan, seolah takut menyentuh sesuatu yang rapuh. Ia memperhatikan putrinya yang terlihat berbeda, ada sesuatu yang disembunyikan, sesuatu yang tidak berani Meylin tunjukkan. Meylin menoleh sekilas, lalu tersenyum tipis. “Ibu… jangan bahas itu terus.” “Tapi suamimu itu pria yang baik, Nak.” Sarah berbicara lagi, lembut dan penuh keyakinan seorang ibu. “Ibu lihat sendiri, dia sangat perhatian sama kamu.” Meylin menghela napas kecil. Senyumnya muncul lagi, tapi kali ini jelas sekali dipaksakan. “Bu, kenapa sih harus terus memuji Mas Byan di depan aku? Aku istrinya, Bu… aku tahu kok.” Nada suaranya dibuat santai, namun matanya sedikit menghindar. Bukan karena ia marah pada ibunya. Bukan pula karena ia ingin membenci Byantara.

