Sudah sekitar sebulan Andi tiba di Indonesia. Selama itu pula ia mencari keberadaan Meylin—perempuan yang pernah ia cintai sekaligus perempuan yang membuatnya memikul penyesalan paling berat dalam hidupnya. Perbuatan Andi di masa lalu membuat Meylin pergi tanpa memberi kesempatan, tanpa penjelasan sedikit pun. Hanya sepucuk surat putus, dingin dan final. Hampir putus asa, suatu pagi teleponnya berdering. Sebuah pesan masuk dari teman lama mereka di sekolah dulu. Balasan yang sudah ia tunggu berhari-hari. Alamat baru Meylin. Andi terdiam lama. Ada lega, tapi juga takut. Takut kalau semua ini sudah terlambat. Tanpa menunggu satu detik pun, ia mengambil jaket dan keluar dari mansionnya. Mobil sedannya melaju cepat, sementara Andi terus memandangi pesan berisi alamat itu berkali-kali, s

