Tok tok tok. Ketukan pelan terdengar di pintu ruang kerja itu. Refleks, Byantara dan Dewi sama-sama menoleh, seperti dua orang yang baru saja tertangkap basah melakukan sesuatu yang seharusnya tersembunyi. “Masuk,” ujar Byantara cepat, menarik tangannya dari pundak Dewi dan melangkah menjauh. Pintu terbuka perlahan, menampakkan Budi, asisten pribadi Byantara. Begitu melihat Dewi berdiri di depan meja, mata Budi sempat singgah ke arah Dewi dengan tatapan tidak suka, namun ia dengan cepat menunduk agar tidak terbaca rasa tidak sukanya itu.. “Maaf Pak, ada hal penting yang ingin saya sampaikan dan ada file yang harus bapak tanda tangan.” Nada suaranya sopan, tapi tatapan matanya penuh perhitungan. Dewi tersenyum tipis, berusaha terlihat ramah. “Tidak apa-apa, Budi. Aku hanya ingin ber

