Setelah mempertimbangkan berkali-kali dan mempelajari alamat yang diberikan ibu Meylin, Andi akhirnya memutuskan untuk pergi. Hari sudah mulai gelap ketika ia mengambil keputusan itu, tetapi rasa penasarannya sudah tidak bisa ditahan lagi. Sejak kembali dari luar negeri, ayahnya menuntutnya untuk segera terjun ke perusahaan. Pagi hingga sore ia habiskan di kantor, dan satu-satunya waktu yang tersisa baginya adalah malam hari. “Terserah sudah malam, aku harus melihat keadaan Meylin. Aku ingin tahu seperti apa laki-laki yang dinikahi Mey… apakah semua ini hanya pelarian karena aku?” pikir Andi dengan d**a sesak. Begitu pulang dari perusahaan, ia tidak lagi singgah ke mana-mana. Ia langsung mengarahkan mobil ke alamat rumah Byantara dan Meylin, dengan hati yang dipenuhi kerinduan dan penye

