Dewi meletakkan ponselnya perlahan di atas meja. Dadanya naik turun, bukan karena lelah, melainkan karena amarah yang bercampur dengan rasa takut kehilangan. Berbulan madu. Kata itu terus berputar di kepalanya. Ia berjalan ke arah jendela hotel, menatap lampu kota asing di kejauhan. Biasanya, pemandangan seperti ini membuatnya merasa besar, merasa penting. Namun malam itu, semuanya terasa dingin dan tidak berarti. “Meylin…” gumamnya lirih, nyaris tanpa suara. Sejak pertama kali Dewi melihat foto perempuan itu, ada perasaan tidak nyaman yang sulit ia jelaskan. Bukan karena Meylin cantik saja, Dewi tahu banyak perempuan cantik di luar sana. Melainkan karena sorot mata itu. Tenang, bersih, dan tidak menantang, seolah tidak sedang berusaha merebut apa pun, namun justru itulah yang membu

