73. Telepon yang Tidak Berarti Lagi

1184 Kata

Cahaya pagi menyelinap lembut melalui celah tirai. Suara ombak yang tenang menjadi alarm alami, membangunkan Meylin perlahan. Matanya terbuka dengan rasa asing namun menyenangkan. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap langit-langit kamar, lalu tersadar, ia tidak sendirian. Lengan Byantara masih melingkar di pinggangnya, hangat dan protektif. Napas pria itu teratur, wajahnya tampak jauh lebih damai dibandingkan hari-hari biasanya. Tidak ada garis tegang di dahinya. Tidak ada beban di matanya. Meylin tersenyum kecil. Perlahan, ia berbalik menghadap Byantara, menatap wajah suaminya dari jarak sedekat itu. Baru kali ini ia melihat Byantara tertidur dengan ekspresi setenang ini, seolah semua kekacauan hidupnya benar-benar berhenti di pulau kecil ini. Tanpa sadar, ujung jarinya menyentuh p

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN