Di sisi lain, Dewi masih menggenggam ponselnya, napasnya naik turun cepat. Tangannya bergetar, bukan karena sedih saja, tetapi karena marah. “Tidak… Byan tidak bisa ninggalin aku gitu aja. Dia pasti cuma emosi,” gumamnya, hampir seperti orang yang kehilangan akal. “Dia harus dengar aku. Dia harus lihat aku. Dia harus… kembali. Dia adalah milikku!” Ia berdiri tergesa-gesa, meraih tasnya. Tanpa memikirkan apa pun, Dewi segera menuju ke bawah apartemen. “Aku akan ke kantornya. Dia tidak bisa lari dariku.” "Aku tidak terima kalau dia memutuskan hubungan begitu saja!" Wajahnya pucat oleh amarah dan obsesi. Ia tidak peduli lagi tentang harga diri. Yang ia tahu hanyalah satu: Byantara tidak boleh mengingkari janjinya. Byantara harus menjadi miliknya. ******* Sementara itu, di kantor… By

