Byantara tiba di perusahaannya dengan hati yang sama sekali tidak tenang. Sekalipun tubuhnya sudah duduk di ruang kerjanya, pikirannya masih tertinggal di rumah, terarah pada Meylin, pada tatapan yang tidak dia mengerti itu, pada rasa bersalah yang sejak kemaren malam menghimpit dadanya. Ia menghela napas panjang, mencoba fokus pada berkas-berkas di mejanya, namun satu kalimat terus berputar di kepalanya: Aku sudah keterlaluan. Akhirnya, tidak sanggup menahan kegelisahan, Byantara menekan tombol interkom. “Budi, tolong masuk sebentar.” Tidak lama kemudian, Budi mendekat dengan ekspresi was-was, mengira ada masalah pekerjaan. “Ada yang bisa saya bantu, Pak Byan?” Byantara tidak langsung menjawab. Ia memijat keningnya, ragu, lalu berkata pelan, “Bud… aku mau tanya sesuatu. Sesuatu yang

