Membayar Dendanya dengan Tubuhmu

1642 Kata
"Tolong... jangan di sini." Suara Aira terdengar begitu kecil, nyaris hilang ditelan luasnya penthouse yang dingin itu. Dia memeluk tubuhnya sendiri, mencoba menutupi noda muntahan di seragamnya, sekaligus menutupi harga dirinya yang tinggal sisa-sisa debu. Elvano tidak beranjak. Dia bersandar di tepi meja kerjanya yang terbuat dari kayu mahoni hitam, melipat kedua tangan di d**a. Tatapannya bukan tatapan seorang pria yang ingin menikmati tubuh wanita, melainkan tatapan seorang hakim yang sedang menunggu eksekusi mati. "Kenapa tidak?" tanya Elvano santai, nadanya tajam mengiris. "Lima tahun lalu, kau tidak keberatan memamerkan punggung mulusmu dalam balutan gaun backless di depan ratusan kamera wartawan. Kau bahkan bangga menjadi pusat perhatian. Kenapa sekarang malu? Karena penontonmu cuma aku?" "Bukan begitu..." Aira menggeleng lemah. Air mata menggantung di pelupuk matanya. "Aku kotor. Aku bau... aku..." "Tepat sekali," potong Elvano dingin. Dia menegakkan tubuh, melangkah maju satu langkah. Aura dominasinya membuat Aira refleks mundur hingga punggungnya menabrak dinding kaca yang dingin. "Kau kotor. Kau menjijikkan. Bau alkohol murah dan keringat pria-p****************g di klub itu menempel di kulitmu. Dan aku tidak sudi barang milikku berbau seperti sampah." Elvano menunjuk ke arah pintu kamar mandi di sudut ruangan dengan dagunya. "Buka seragam itu. Masukkan ke tempat sampah. Lalu masuk ke kamar mandi dan gosok kulitmu sampai merah. Jangan keluar sebelum kau bersih dari segala jejak kehidupan menyedihkanmu itu." Aira tertegun. Jadi... dia tidak berniat menyentuhnya sekarang? Dia hanya ingin Aira mandi? Kelegaan yang membanjiri d**a Aira begitu besar hingga kakinya lemas. Namun, rasa malu itu tetap ada. Dia harus tetap menanggalkan pakaiannya di sini, di bawah sorot mata elang pria yang membencinya. Dengan jari-jari gemetar yang sulit diajak kompromi, Aira meraih ritsleting di punggung seragamnya. Macet. Ritsleting murahan itu tersangkut di kain. Aira panik. Dia menariknya paksa, napasnya memburu. Sreeet. Bunyi kain robek terdengar nyaring. Seragam itu terbuka, melorot jatuh ke lantai, menyisakan Aira yang hanya mengenakan pakaian dalam berwarna abu-abu kusam. Karet celana dalamnya sudah longgar, dan bra-nya, benda itu sudah dipakai lama hingga warnanya pudar dan kawatnya menusuk kulit. Aira memejamkan mata erat-erat, menundukkan wajah, berdoa agar lantai di bawahnya terbelah dan menelannya bulat-bulat. Dia tahu apa yang dilihat Elvano. Bukan tubuh seksi yang menggairahkan, melainkan tubuh kurus kering dengan tulang rusuk yang menonjol, kulit pucat yang jarang terkena matahari, dan pakaian dalam yang meneriakkan kemiskinan. Hening. Tidak ada hinaan. Tidak ada tawa mengejek. Keheningan itu justru lebih menyiksa daripada cambukan. Tiba-tiba, sesuatu yang berat dan lembut mendarat di kepalanya, menutupi pandangannya. Handuk. "Menyedihkan," suara Elvano terdengar datar, tapi ada getaran aneh di sana. Marah? Kecewa? "Kau terlihat seperti kerangka hidup. Apa ayahmu yang 'terhormat' itu lupa memberimu makan sebelum dia sekarat?" Aira menarik handuk itu, menutupi tubuhnya secepat kilat. "Aku... aku makan cukup," belanya lirih, meski perutnya berbunyi memprotes kebohongan itu. "Cepat mandi. Waktumu sepuluh menit. Lewat dari itu, aku dobrak pintunya." Aira tidak menunggu perintah dua kali. Dia menyambar seragam kotornya dan berlari masuk ke kamar mandi mewah itu, mengunci pintu di belakangnya dengan tangan gemetar. Di bawah guyuran shower air hangat yang deras, Aira merosot duduk di lantai marmer. Air itu terasa surgawi di kulitnya yang lengket, tapi Aira tidak bisa menikmatinya. Dia menangis. Bukan tangisan isak yang keras, tapi air mata diam yang mengalir deras, membaur dengan air shower. Dia menggosok kulitnya dengan spons mandi kasar, mencoba menghilangkan bau alkohol dan bau kemiskinan, tapi bayangan masa lalu justru datang menghantamnya. Aroma sabun mewah beraroma sandalwood di kamar mandi ini... ini aroma tubuh Bastian dulu. Lima tahun lalu. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Memori itu berputar di kepala Aira seperti kaset rusak. Hari itu hujan badai. Ruang sidang penuh sesak. Aira duduk di kursi saksi, mengenakan gaun hitam sopan, wajahnya datar tanpa ekspresi. Di kursi terdakwa, Bastian duduk dengan wajah lebam. Sudut bibirnya pecah, matanya bengkak. Dia baru saja dipukuli habis-habisan di sel tahanan malam sebelumnya. Mata Bastian menatap Aira dengan penuh harap. Harapan yang menyakitkan. Bastian yakin Aira akan membela. Bastian yakin Aira akan mengatakan yang sebenarnya: Bahwa Bastian tidak bersalah. Bahwa Ayah Aira yang memalsukan tanda tangan itu. Tapi malam sebelum sidang, Ayah Aira masuk ke kamar Aira, melempar foto-foto Bastian yang sedang tidur di sel tahanan dengan titik merah laser di dahinya. "Kau buka mulutmu untuk membelanya, dan penembak jitu Ayah akan meledakkan kepalanya malam ini juga di dalam sel. Buat dia dipenjara, dan dia hidup. Bebaskan dia, dan dia mati." Pilihan yang mustahil. Di ruang sidang, Hakim Ketua bertanya dengan suara berat. "Saudari Saksi, apakah benar Saudara Terdakwa memanipulasi Anda untuk menggelapkan dana tersebut?" Aira ingat bagaimana dia mencengkeram roknya di bawah meja hingga kukunya patah. Dia menatap mata Bastian. Dia harus membuat Bastian membencinya. Hanya kebencian yang akan membuat Bastian menjauh. Hanya kebencian yang akan menyelamatkan nyawanya. Dengan suara dingin yang ia latih semalaman, Aira menjawab. "Benar, Yang Mulia. Bastian Pradipta memanfaatkan hubungan kami. Dia terobsesi pada harta keluarga saya. Saya tidak pernah mencintainya. Dia hanya... benalu." Detik itu, Aira melihat cahaya di mata Bastian padam. Bukan redup, tapi mati. Pria itu tidak berteriak marah. Dia hanya tertawa. Tawa pelan, kosong, dan mengerikan yang masih menghantui mimpi Aira sampai detik ini. "Benalu..." Aira terisak di bawah guyuran shower, memukul dadanya sendiri yang terasa sesak. "Maafkan aku, Bas. Maafkan aku..." Dia telah menyelamatkan nyawa Bastian dengan membunuh jiwanya. Dan sekarang, "hantu" dari jiwa yang mati itu telah kembali untuk menuntut balas. "Sepuluh menit habis." Gedoran keras di pintu membuat Aira melompat kaget. Dia buru-buru mematikan keran, menyeka tubuhnya asal-asalan, dan menyadari satu hal fatal: Dia tidak punya baju ganti. Seragamnya sudah dibuang ke tempat sampah basah. "Aira!" "I-iya! Sebentar!" Aira melihat sekeliling dengan panik. Di gantungan di balik pintu, tergantung sebuah bathrobe berwarna hitam tebal. Ukurannya jelas ukuran Elvano. Tanpa pikir panjang, Aira menyambarnya dan mengenakannya. Jubah itu kebesaran, menyapu lantai dan menenggelamkan tubuh kecilnya, tapi aromanya... aroma Bastian memeluknya dari segala arah. Dengan nafas tertahan, Aira membuka kunci pintu dan melangkah keluar. Elvano sudah tidak duduk di meja kerjanya. Dia berdiri di dekat jendela, memegang gelas whisky baru. Dia sudah melepas jasnya, menyisakan kemeja putih yang lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan otot lengan yang kokoh. Saat Aira keluar, Elvano menoleh. Matanya menyapu penampilan Aira. Rambut basah yang meneteskan air ke kerah jubah, wajah polos tanpa make-up yang memerah karena uap panas, dan tubuh mungil yang tenggelam dalam pakaiannya. Untuk sepersekian detik, tatapan Elvano melembut. Kilatan kerinduan melintas begitu cepat, nyaris tak terlihat. Tapi secepat itu pula, topeng dingin itu kembali terpasang. "Setidaknya kau sudah tidak bau sampah," komentar Elvano tajam. Dia berjalan mendekat, meletakkan gelasnya dengan bunyi klontang yang keras di meja. "Sekarang, kita bicarakan aturan main." Aira menelan ludah, merapatkan jubah mandinya di bagian d**a. "Aturan?" "Kau pikir kau di sini untuk apa? Berlibur?" Elvano mendengus. "Kau adalah pelayan pribadiku. Tugasmu melayaniku 24 jam. Mulai dari menyiapkan makan, menyiapkan baju, membersihkan rumah, sampai..." Matanya menggelap, turun ke bibir Aira yang pucat. "...menghangatkan ranjangku jika aku menginginkannya." Wajah Aira memerah padam. "Aku mengerti." "Bagus kalau kau mengerti." Elvano berbalik, mengambil sebuah kunci kartu dari saku celananya. "Ikut aku." Aira mengikuti langkah lebar Elvano keluar dari ruang kerja, melewati ruang tamu yang luas, menuju lorong di bagian belakang penthouse. Jantung Aira berdegup kencang. Apakah dia akan dibawa ke kamar utama? Apakah Elvano akan memintanya melakukan 'kewajiban istri' malam ini juga? Aira meremas sabuk jubah mandinya, menyiapkan mental untuk hal terburuk. Namun, Elvano tidak berhenti di depan pintu ganda kayu jati yang terlihat seperti kamar utama. Dia terus berjalan, melewati kamar-kamar tamu yang mewah, sampai ke ujung lorong dekat area dapur kotor. Di sana ada sebuah pintu kecil berwarna putih polos. Tanpa ukiran, tanpa gagang emas. Elvano menempelkan kartu kuncinya. Bip. Pintu terbuka. "Masuk," perintahnya. Aira melangkah masuk dengan ragu. Dia ternganga. Ini bukan kamar tidur. Ini adalah gudang penyimpanan, atau mungkin kamar pelayan yang paling buruk. Ruangannya sempit, tanpa jendela. Hanya ada satu kasur busa tipis yang digelar di lantai, sebuah lemari plastik kecil, dan satu lampu bohlam yang cahayanya remang-remang. Tidak ada AC, hanya kipas angin kecil di sudut. Kontras yang begitu brutal dengan kemewahan penthouse di luar sana membuat Aira pusing. "Tuan... ini..." "Kenapa? Kurang mewah?" sela Elvano sinis. Dia bersandar di bingkai pintu, menatap Aira yang berdiri kaku di tengah ruangan sempit itu. "Kau menjual harga dirimu seharga dua miliar, Aira. Kau tidak berhak menuntut kenyamanan." Elvano menunjuk kasur tipis di lantai itu. "Ini tempatmu. Mulai malam ini, kau tidur di sini. Jangan berani-berani menginjakkan kaki di kamar tamu apalagi kamar utamaku, kecuali aku yang menyeretmu ke sana." Aira menunduk, menatap kasur tipis itu. Ini masih lebih baik daripada tidur di lantai ubin kontrakannya yang lembab. Setidaknya di sini aman... atau begitulah pikirnya. "Terima kasih," ucap Aira tulus, meski hatinya nyeri. Jawaban tulus Aira sepertinya justru memancing amarah Elvano lagi. Pria itu benci melihat Aira menerima nasib. Dia benci melihat wanita yang dulu begitu angkuh kini begitu pasrah. Elvano melangkah masuk, mendesak Aira ke dinding sempit itu. Dia mencengkeram rahang Aira, memaksa wanita itu mendongak. "Jangan berterima kasih padaku," desis Elvano, wajahnya hanya berjarak beberapa senti, matanya berkilat buas dalam keremangan. "Karena aku belum selesai. Besok pagi, jam 5 tepat, kau sudah harus berdiri di samping tempat tidurku. Kalau kau telat satu menit saja..." Jari jempol Elvano mengusap bibir bawah Aira dengan kasar, sebuah sentuhan yang ambigu antara ancaman dan hasrat. "...aku akan pastikan kau membayar dendanya dengan tubuhmu." Elvano melepaskan Aira dengan kasar, lalu berbalik keluar. Brak! Pintu ditutup keras. Lalu terdengar bunyi klik kunci otomatis dari luar. Aira terlonjak. Dia berlari ke arah pintu, memutar gagangnya. Terkunci. "Tuan? Tuan?!" panggil Aira panik. Dia menggedor pintu itu. "Tuan, pintunya terkunci! Bagaimana kalau aku mau ke kamar mandi?" Hening sejenak. Lalu terdengar suara Elvano dari balik pintu, dingin dan tanpa ampun. "Tahan saja. Atau gunakan ember pel. Selamat tidur, Nona Wiranata. Mimpi burukmu baru saja dimulai." Langkah kaki Elvano terdengar menjauh, meninggalkan Aira sendirian dalam kegelapan gudang sempit itu, terkunci seperti binatang di dalam sangkar yang sebenarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN