"Tolong... buka pintunya! Gelap..."
Aira memukul daun pintu itu sekali lagi, meski tenaganya sudah habis. Suaranya bukan lagi teriakan, melainkan cicitan putus asa yang diredam oleh dinding kedap suara.
Tidak ada jawaban. Hanya dengungan samar dari mesin pendingin udara sentral di luar sana yang terdengar mengejek.
Aira merosot, punggungnya meluncur di sepanjang permukaan pintu yang dingin hingga pantatnya menyentuh lantai. Gelap gulita. Tidak ada celah cahaya sedikit pun di bawah pintu. Ruangan sempit ini, gudang, atau mungkin bekas kamar pelayan, benar-benar seperti kotak sepatu yang tertutup rapat.
Napas Aira mulai memburu.
Dia takut gelap.
Bastian tahu itu. Dulu, saat mati lampu melanda Jakarta, Bastian akan langsung menyalakan senter ponselnya dan memeluk Aira, membiarkan Aira menyembunyikan wajah di dadanya sampai listrik menyala kembali. "Selama ada aku, gelap tidak akan berani menyentuhmu, Ra," begitu katanya dulu.
Sekarang? Pria yang sama justru yang mengurungnya di sini, membiarkan kegelapan melahapnya hidup-hidup.
Aira memeluk lututnya erat-erat, menyembunyikan wajah di antara tekukan kaki. Dia mengenakan jubah mandi kebesaran milik Elvano yang aromanya kini terasa mencekik. Aroma mint dan tembakau itu seolah-olah hantu Bastian yang sedang memeluknya, tapi dengan tangan dingin yang siap meremukkan tulang rusuknya.
"Ayah..." bisik Aira di tengah isak tangisnya. "Ayah harus sembuh. Aira bertahan di sini demi Ayah."
Waktu merayap lambat. Tanpa jendela, tanpa jam dinding, Aira kehilangan orientasi waktu. Apakah sudah satu jam? Dua jam? Atau baru sepuluh menit?
Rasa lelah akhirnya mengalahkan rasa takut. Aira meringkuk di atas kasur busa tipis tanpa sprei itu. Dia tidak berani memejamkan mata sepenuhnya, takut jika dia tidur, monster-monster imajinasinya akan keluar dari sudut ruangan. Namun, kelelahan fisik akibat kerja seharian dan guncangan emosi membuatnya perlahan hanyut dalam tidur yang gelisah.
Klik.
Bunyi kunci otomatis terbuka menyentak Aira bangun. Dia terlonjak duduk, jantungnya berpacu liar. Napasnya tersengal, matanya menyapu sekeliling. Cahaya samar merembes masuk dari celah pintu yang kini sedikit terbuka.
Aira meraba-raba mencari ponselnya untuk melihat jam, tapi dia sadar ponselnya tertinggal di sofa ruang tengah semalam. Dia tidak punya alat penunjuk waktu.
Namun, dia ingat ancaman Elvano. "Jam 5 tepat, kau sudah harus berdiri di samping tempat tidurku."
Apakah sekarang sudah pagi? Atau Elvano membuka pintu hanya untuk menyiksanya lagi?
Aira berdiri dengan kaki gemetar. Jubah mandinya kusut. Dia melangkah hati-hati keluar dari ruangan sempit itu.
Penthouse itu sunyi. Tirai-tirai raksasa di ruang tamu masih tertutup rapat, menghalangi matahari pagi. Tapi dari celah tirai, Aira bisa melihat langit Jakarta yang mulai membiru pucat. Fajar.
Dia melirik jam digital di oven dapur bersih yang ia lewati.
04:45 AM.
Aira menghela napas lega, tapi sedetik kemudian kepanikan baru muncul. Dia harus menghadap Elvano 15 menit lagi. Tapi dia tidak punya baju! Seragam cleaning service-nya sudah dibuang, dan dia tidak mungkin menghadap Elvano hanya dengan memakai jubah mandi pria itu. Itu sama saja bunuh diri.
Aira berlari kecil ke ruang tengah, mencari tasnya yang mungkin tertinggal. Nihil. Tasnya hilang. Ponselnya hilang.
"Cari ini?"
Suara bariton yang serak khas bangun tidur membuat Aira membeku.
Dia menoleh perlahan ke arah tangga spiral yang menghubungkan lantai bawah dengan area mezzanine tempat kamar utama berada.
Elvano berdiri di bordes tangga. Dia sudah mandi. Rambutnya basah, disisir ke belakang dengan jari. Dia mengenakan celana training abu-abu dan kaos ketat berwarna hitam yang menonjolkan otot bisepnya. Di tangannya, dia memegang sebuah kotak kardus cokelat.
"T-Tuan..." Aira menunduk, merapatkan jubah mandinya.
Elvano menuruni tangga dengan santai. Setiap langkah kakinya terdengar berat di telinga Aira. Dia berhenti tepat di depan Aira, lalu melempar kotak kardus itu ke d**a wanita itu.
Aira menangkapnya dengan refleks.
"Mandi di kamar mandi tamu dekat dapur. Kau punya waktu sepuluh menit untuk memakai itu dan naik ke kamarku. Siapkan kopiku. Tanpa gula, double shot espresso," perintah Elvano datar.
Tanpa menunggu jawaban, Elvano berbalik dan naik kembali ke atas.
Aira menatap punggung lebar itu hingga menghilang di balik pintu kamar utama. Dia menunduk menatap kotak di tangannya. Tidak ada label, tidak ada merek.
Dengan perasaan was-was, Aira membuka kotak itu. Isinya adalah beberapa setel pakaian. Aira mengangkat salah satu potong pakaian itu. Nafasnya tercekat.
Ini bukan seragam pelayan biasa. Ini adalah dress hitam pendek, sangat pendek, dengan potongan leher rendah bergaya maid modern, lengkap dengan apron putih kecil yang lebih mirip hiasan daripada pelindung kotoran. Bahannya tipis, jelas bukan bahan katun murah, tapi sutra yang akan menempel ketat di kulit.
Di bawah tumpukan baju itu, ada secarik kertas note kuning dengan tulisan tangan tegak bersambung yang tajam: Pakai ini. Atau telanjang. Pilihanmu.
Wajah Aira memanas hingga ke telinga. Ini penghinaan. Elvano sengaja ingin merendahkannya menjadi objek seksual, sebuah boneka yang bisa dia dandan sesuka hati.
Tapi Aira ingat tagihan dua miliar itu. Dia ingat ayahnya yang kini bernapas dengan bantuan mesin yang dibayar oleh pria b******k di atas sana.
Aira menggigit bibir bawahnya, menahan air mata yang mendesak keluar. Cuma baju, Aira. Ini cuma kain. Harga dirimu tidak terletak pada apa yang kau pakai.
Dia membawa kotak itu dan berlari ke kamar mandi tamu.
Sepuluh menit kemudian.
Aira berdiri di depan cermin wastafel, menatap pantulan dirinya dengan tatapan asing. Gaun itu pas di badannya—terlalu pas. Roknya berakhir jauh di atas lutut, memperlihatkan kaki jenjangnya yang pucat. Kerah rendahnya mengekspos tulang selangkanya yang menonjol.
Dia merasa telanjang.
Tapi dia tidak punya pilihan.
Dengan langkah berat, Aira keluar dari kamar mandi, menuju dapur untuk membuat kopi sesuai pesanan. Tangannya gemetar saat menuang air panas. Dia berdoa agar kopi ini rasanya pas. Dulu, dia yang selalu membuatkan kopi untuk Bastian setiap pagi. Dia tahu takarannya di luar kepala. Tapi apakah selera Bastian sudah berubah?
Setelah kopi siap, Aira menaiki tangga spiral menuju lantai mezzanine.
Pintu kamar utama terbuka sedikit. Aira mengetuk pelan, lalu mendorongnya.
"Permisi, Tuan. Kopi Anda."
Kamar itu luas, dingin, dan bernuansa maskulin. d******i warna hitam, abu-abu, dan perak. Di tengah ruangan, sebuah ranjang King Size berdiri megah.
Elvano sedang duduk di tepi ranjang, sibuk mengancingkan kemeja kerjanya. Dia tidak menoleh saat Aira masuk.
"Letakkan di nakas," perintahnya.
Aira berjalan pelan, mencoba menarik rok pendeknya ke bawah agar lebih sopan, tapi sia-sia. Dia meletakkan cangkir kopi di nakas samping tempat tidur dengan hati-hati.
"Ada lagi yang Tuan butuhkan?" tanya Aira, matanya tertuju pada karpet bulu di bawah kakinya.
"Angkat kepalamu."
Aira menarik napas, lalu mendongak perlahan. Elvano sudah selesai mengancingkan kemejanya. Dia berdiri, lalu berbalik menatap Aira sepenuhnya.
Mata elang itu menyapu penampilan Aira dari ujung rambut yang diikat asal-asalan, turun ke leher jenjang, d**a, pinggang ramping, hingga ke paha yang terekspos. Tatapan itu intens, gelap, dan membakar. Ada kepuasan kejam di sana saat melihat Aira mengenakan "kalung" kepemilikannya.
Elvano melangkah mendekat. Aira menahan nafas, menahan keinginan untuk mundur. Tangan Elvano terulur, menyentuh apron putih di pinggang Aira, merapikannya sedikit. Sentuhan itu ringan, tapi efeknya seperti setruman listrik.
"Pas," gumam Elvano. "Aku punya mata yang bagus untuk ukuran."
Aira memalingkan wajah, tidak sanggup menatap mata pria itu.
"Bolehkah saya turun sekarang? Saya harus membersihkan dapur."
"Belum."
Elvano meraih dagu Aira, memaksanya kembali menatap lurus ke depan.
"Ada satu hal lagi yang perlu kau tahu tentang rumah ini. Sesuatu yang akan memastikan kau tidak akan pernah berpikir untuk berkhianat atau melarikan diri lagi."
Elvano mengambil sebuah remot kecil berwarna hitam dari saku celananya. Dia mengarahkannya ke dinding di seberang tempat tidur.
Beep.
Sebuah panel dinding bergeser, memperlihatkan layar TV LED berukuran raksasa, mungkin 80 inchi, yang tertanam di dinding. Layar itu menyala, terbagi menjadi dua belas kotak kecil. Aira menyipitkan mata, mencoba melihat apa yang ditampilkan di sana.
Darahnya surut seketika.
Itu adalah rekaman CCTV.
Kotak 1: Ruang tamu.
Kotak 2: Dapur.
Kotak 3: Lorong.
Kotak 4: Pintu lift.
Tapi bukan itu yang membuat Aira merasa ingin pingsan. Kotak 9: Menampilkan bagian dalam gudang sempit tempat Aira tidur semalam.
Kotak 10: Menampilkan sudut kamar mandi tamu tempat Aira baru saja berganti baju.
Aira menutup mulutnya dengan tangan, menahan jeritan.
"K-kau..." suaranya tercekat. "Kau memasang kamera di kamar mandi?"
"Aku melihat semuanya," bisik Elvano di telinga Aira, suaranya rendah dan mengerikan. "Setiap langkahmu. Setiap nafasmu. Saat kau tidur, saat kau menangis, bahkan saat kau mengganti pakaianmu yang menyedihkan itu."
Elvano mematikan layar itu, membuat ruangan kembali hening. Dia menatap Aira yang kini gemetar hebat dengan wajah pucat pasi.
"Tidak ada privasi untuk seorang tawanan, Aira. Kau tidak bisa menyembunyikan apapun dariku. Tidak sehelai benang pun, dan tidak setitik pun rahasia."
Elvano mengambil cangkir kopinya, menyesapnya sedikit, lalu tersenyum miring.
"Kopinya enak. Masih sama seperti dulu."
Dia meletakkan cangkir itu kembali, lalu mengambil tas kerjanya. Sebelum melangkah keluar pintu, dia berhenti sejenak di samping Aira yang masih mematung karena syok.
"Hari ini aku pulang jam tujuh malam. Pastikan makan malam sudah siap. Dan ingat... aku bisa melihatmu, bahkan saat aku tidak ada di sini."
Elvano melangkah pergi, meninggalkan Aira yang berdiri sendirian di tengah kamar luas itu. Aira merasa dinding-dinding ruangan itu, langit-langitnya, bahkan udara yang dihirupnya, memiliki mata.
Dia benar-benar berada di dalam sangkar kaca. Telanjang.
Terkekang. Dan tidak ada jalan keluar.
Aira mendongak, menatap lensa kamera kecil yang berkedip merah di sudut langit-langit kamar utama, tepat di atas ranjang Elvano. Lampu merah itu berkedip pelan, seperti detak jantung monster yang baru saja menelannya bulat-bulat.