Penculikan Aira

1589 Kata

Waktu di Rumah Sakit Medika seolah memiliki zonanya sendiri, terpisah dari hiruk-pikuk Jakarta yang terus bergerak cepat. Di dalam dinding-dinding VVIP yang beraroma antiseptik dan bunga lili itu, hari berganti minggu dengan lambat, diisi oleh rutinitas pemulihan yang melelahkan namun penuh harapan. Aira tidak lagi membatu. Berkat sesi intensif dengan Dr. Karina, seorang psikiater senior yang didatangkan khusus oleh Bastian, dinding tebal yang mengurung jiwa Aira perlahan mulai retak. Aira sudah mau menatap mata orang lain, meski hanya sekilas. Dia sudah mau mengangguk atau menggeleng untuk menjawab pertanyaan sederhana. Suaranya belum kembali sepenuhnya, hanya bisikan-bisikan patah yang jarang, namun bagi Bastian, setiap desahan nafas Aira adalah simfoni. Bastian memenuhi janjinya. Dia

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN