Mariana bersyukur karena kafe tempat ia akan menemui pria itu tidak terlalu jauh dari kantornya. Tidak sampai lima belas menit berada di jalanan, Mariana membelokkan kendaraan roda empatnya masuk ke pelataran kafe. Sudah hampir jam setengah delapan. Mariana menghentikan mobilnya. Wanita itu merasa perlu untuk memasukkan sebanyak mungkin oksigen lalu menghentaknya, sebelum kemudian melepas seat belt, mematikan mesin mobil kemudian keluar. Tanpa merasa perlu melakukan touch up make up yang pasti sudah luntur, Mariana melangkah masuk ke dalam kafe. Toh tujuannya bukan untuk terlihat cantik di depan pria itu. Sebaliknya, dia harus membuat pria itu malas dengannya, hingga tidak sakit hati ketika ia memutus perjodohan itu. Mariana mengedarkan pandangan mata. Kafe lumayan ramai di jam makan m

