“Kamu itu … bisa-bisanya lebih memilih makan cacing daripada istirahat di rumah sakit sambil diinfus.” “Aku tuh udah ngeri duluan lihat jarum, Ma.” “Sudah ayo, kita ke lab dulu. Dokter Rita juga pasti sudah mau pergi.” Marita menggeser fokus pada pada wanita yang duduk terpisah meja dengannya. “Benar, kan, Dok?” “Benar. Sebentar lagi saya keluar. Mau visit pasien.” Dokter itu menjawab. “Baiklah. Kalau begitu kami permisi. Sekali lagi terima kasih dokter sudah memberikan waktu untuk anak penakut ini.” Marita langsung terkekeh meliha ekspresi wajah putrinya. Wanita itu kemudian beranjak berdiri. Mariana segera mengikuti. “Permisi, Dok,” pamit Mariana. Setelah melihat anggukan kepala sang dokter, Mariana menarik langkah keluar dari celah kursi dan meja, lalu berjalan bersama sang mama ke

