Bab 177.-3

707 Kata

Susah payah Sultan menelan salivanya. Dalam hati mengumpat pikiran mesumnya. Pria itu mengatur tarikan dan hembusan napas pelan-pelan. “Bagaimana? Bisa? Raja biar di sini malam ini. Nanti aku yang akan memikirkan alasannya. Aku juga yang akan bicara dengan istrimu. Yang penting kamu harus bisa tidur dengannya malam ini.” “Mana bisa, Kek. Malam aku menemani pakde Ahmad.” Pramu Atmadja langsung berdecak. “Kenapa sekarang kecerdasan kamu juga hilang, Sultan? Kamu tinggal minta Ardian. Kamu beri dia bonus, pasti senang.” Sultan terdiam menatap sang kakek yang sudah meluruskan posisi duduk setelah berbisik di telinganya. Sepasang mata pria itu mengedip. “Sudah, lakukan saja apa yang aku katakan. Dia tidak akan pergi lagi setelah itu.” Sultan merasa perlu memasukkan oksigen sebanyak mungki

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN