“Sudah makan?” Ranti menggulir bola mata hingga kembali bertemu tatap dengan Marita. “Tolong jangan keterlaluan menghinaku. Meski cuma nasi dan tempe, aku sudah makan.” Marita mengedip. “Bukan begitu. Aku tidak sedang menghinamu. Aku kasihan padamu. Aku menawarkan makanan. Jangan terlalu memakai perasaan.” Ranti menghentak keras karbondioksida dari celah bibir yang terbuka. Wanita itu menarik punggung ke depan, lalu mengambil gelas berisi jus jeruk, terlihat dari warna airnya. Wanita itu kemudian meneguk beberapa kali sebelum mengembalikan ke atas meja. Ranti mengedarkan pandangan mata. Niatnya hanya untuk mengenang rumah mewah yang pernah ia miliki. Memang tidak semewah rumah pramu Atmadja, namun tidak terlalu jauh berbeda. Sepasang mata wanita itu berhenti bergerak saat menemukan seb

