Hujan mengguratkan garis-garis tipis di kaca jendela kamar, menetes pelan seolah menyamai ritme napas yang berat di dalam ruangan itu. Aroma lembap bercampur samar dengan wangi antiseptik yang masih tertinggal dari masa rawat inap menambah kesan pilu yang belum tersembuykan. Entah kapan. Arcelia duduk membelakangi pintu, bersandar di sandaran ranjang dengan lutut terlipat. Sweater abu-abu kebesaran milik Dante membungkus tubuhnya, seolah melindunginya dari dingin—meskipun dingin yang merayap itu bukan berasal dari udara, melainkan dari rongga kosong yang baru saja tercipta di dalam dirinya. Cangkir teh di tangannya sudah kehilangan uap hangat sejak lama. Isinya bahkan masih utuh—sama sekali belum tersentuh. Tatapannya kosong menembus kaca jendela, menyusuri halaman belakang yang masih

