Matahari pagi menyelinap malu-malu lewat celah tirai, menebarkan cahaya keemasan di kamar utama. Udara masih lembut dengan aroma kopi yang samar, bercampur wangi segar seprai yang baru diganti semalam. Arcelia terbangun pelan, menggeliat manja di balik selimut tebal. Perutnya yang mulai membuncit membuat gerakannya sedikit kaku, tapi itu justru membuat wajah Dante melunak begitu matanya terbuka. Ia sudah terjaga lebih dulu, duduk bersandar di headboard dengan sebuah buku terbuka di tangannya. “Good morning, Mrs. Danadyaksa,” suaranya rendah, serak hangat khas pria yang baru bangun tidur. Arcelia tersenyum, lalu menyembunyikan wajah di bantal. “Pagi... dan seharusnya aku yang menyapamu dulu.” Dante menutup buku, lalu menunduk mencium kening istrinya lama sekali. “Tidak ada aturan begitu

