Mentari pagi menjelang siang menembus lembut kaca patri istana, memantulkan cahaya keemasan yang menari di sepanjang lorong batu pualam. Udara di dalam Istana Agnibrata terasa sejuk dan hening, seolah waktu berjalan lebih lambat di tempat ini. Di antara ukiran kayu jati, lantai mengilat, dan aroma bunga kenanga yang dibawa angin dari taman belakang, langkah Arcelia terdengar pelan namun mantap. Ia berjalan menyusuri koridor utama dengan kebaya sederhana berwarna gading dan rambut disanggul rapi. Matanya menatap lurus ke depan, tapi di balik ketenangannya, jantungnya berdetak kacau. Sudah bertahun-tahun sejak ia terakhir kali menghadap Ayahandanya sebagai Raden Ajeng Arcelia Syaqueline Agnidratawangsa—nama yang selama ini ia lepaskan, ia hindari. Namun pagi itu, ia kembali. Bukan sebagai

