Kaisar menatap layar laptop di depannya dengan fokus penuh. Deretan angka-angka laporan keuangan dan grafik perkembangan proyek ia periksa tanpa jeda. Sejak beberapa minggu terakhir, ia benar-benar menepati janjinya — menepati janjinya kepada mamanya, juga kepada dirinya sendiri — untuk tidak lagi hidup di bawah bayang-bayang perasaan. Satu-satunya hal yang kini ia izinkan menguasai pikirannya hanyalah pekerjaan. Setiap pagi, ia berangkat paling awal, dan pulang paling akhir. Kini wajahnya lebih tegas, tatapannya fokus, dan suaranya jarang terdengar selain untuk urusan profesional. Rindu yang dulu membakar dadanya kini ia simpan rapat di dalam hatinya. Ia menahannya, menekannya, hingga hanya muncul dalam bentuk tatapan kosong ke arah layar ponsel yang sudah berulang kali ia buka—meski n

