Pagi itu udara cukup cerah. Alea berdiri di depan kaca, merapikan rambutnya sambil mengusap pelan perutnya yang kini sudah tampak membulat. Usia kandungannya memasuki bulan keenam, dan setiap kali melihat pantulan dirinya di kaca, Alea selalu merasa campur aduk antara tersentuh, bahagia, sekaligus takut apakah dirinya akan mampu menjadi ibu yang baik. Kaivan menunggu di ruang tamu sambil memainkan ponsel. Begitu melihat Alea keluar dari kamar, ia langsung berdiri. “ Udah Siap, Kak?" tanyanya dengan semanga sambil mengayunkan kunci. Semenjak sering ditegur mamanya lantaran pemuda itu dulunya kerap memanggil nama saja pada sang kakak ipar, sekarang Ivan lebih sopan memanggil dengan embel-embel Kak. Alea terkekeh. “Sudah. Makasih ya, Van. Maaf sudah merepotkan.” “Apa sih! Nggak ada yang m

