Alea membutuhkan dua kali putaran di depan cermin sebelum akhirnya benar-benar yakin bahwa dirinya terlihat cukup pantas untuk menghadiri acara sebesar ini. Gaun satin warna ivory yang dipakai jatuh lembut membingkai tubuhnya, menyisakan ruang bagi perutnya yang kini membesar. Hamil menginjak tujuh bulan tidak membuatnya kehilangan pesona; justru Alea tampak semakin anggun dan matang, sebuah kecantikan yang hanya dimiliki para calon ibu. “Sayang!” suara berat Kaisar terdengar dari pintu kamar. Alea menoleh dan langsung memutar bola mata begitu melihat suaminya bersandar sambil menyilangkan tangan, menatapnya dari ujung rambut sampai ujung kaki dengan tatapan berbahaya. “Apa kita nggak usah berangkat saja?” Kaisar mendekat pelan. “Duh… kamu cantik banget malam ini. Sumpah. Pengen ngurung

