Satu minggu telah berlalu sejak Kaisar memutuskan mengakhiri hubungannya dengan Dias. Selama waktu itu, pria itu benar-benar menghindari semua kemungkinan pertemuan. Nomor Dias ia blokir. Pesan-pesan yang dulu sering datang setiap malam kini berhenti. Rasanya aneh di awal—sunyi, sepi, tapi juga melegakan. Seolah beban yang selama ini menjerat pikirannya perlahan terangkat. Kaisar kini tahu apa yang benar-benar ia mau. Tidak lagi ingin hidup dalam kebohongan. Tidak ingin menenangkan satu hati dengan menyakiti yang lain. Ia sudah cukup lelah menjadi lelaki yang berdiri di tengah, mencoba adil padahal nyatanya tidak bisa. Beberapa malam terakhir, ia sering merenung di balkon rumahnya. Angin malam berhembus pelan, membawa aroma lembab setelah hujan. Dalam keheningan itu, ia memutar ulang sem

