119. Gosip Berujung Perpisahan

2004 Kata

Suasana kantor menjelang siang hari ini tampak seperti biasa—ramai dengan suara mesin printer, dering telepon, dan langkah kaki pegawai yang bergegas menuju meja masing-masing. Namun, di antara keramaian itu, ada bisik-bisik kecil yang mengiringi setiap langkah Kaisar sejak ia memasuki lobi. Suara lirih yang berusaha ditekan namun tetap sampai ke telinganya. “Katanya itu benar ya, Dias pacarnya Pak Kaisar?” “Serius? Aku kira cuma gosip," kata yang lainnya. Kaisar mendengarnya dengan jelas, tapi ia tidak menunjukkan ekspresi apa pun. Wajahnya datar, hanya langkah kakinya yang sedikit dipercepat menuju lift. Ia menarik napas panjang dan memejamkan mata sejenak. “Jangan terpancing, Kai. Fokus kerja dulu,” gumamnya dalam hati. Tapi kata-kata itu sama sekali tidak menenangkan. Sampai di la

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN