107. Ketika Dias Berulah

1838 Kata

Siang itu matahari menyinari halaman Pengadilan Agama dengan teriknya. Orang-orang lalu lalang keluar-masuk gedung, membawa map cokelat berisi dokumen perkara masing-masing. Di antara kerumunan itu, dua perempuan berjalan berdampingan dengan langkah pelan. Alea menundukkan wajah, berusaha menahan gejolak di dadanya. Di tangannya, map biru berisi salinan pendaftaran gugatan perceraian terasa berat seolah bukan sekadar tumpukan kertas. Di sampingnya, Kristi—mertua sekaligus sosok yang kini lebih mirip ibu sendiri—menghela napas panjang. Wanita paruh baya itu menatap Alea sekilas, lalu kembali menatap ke depan. Mereka baru saja melewati salah satu pintu ruang sidang, meninggalkan bayang-bayang formalitas hukum yang akan menentukan masa depan rumah tangga Alea. Begitu sampai di halaman, Kris

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN