Bandara pagi itu dipenuhi hiruk pikuk penumpang yang lalu lalang dengan koper dan ransel di tangan. Pengumuman penerbangan bersahut-sahutan dari pengeras suara, seakan menjadi latar musik yang tak pernah berhenti. Di antara keramaian itu, Alea berdiri dengan wajah teduh tapi hati yang bergetar. Di sampingnya ada Deri yang berdiri dengan sikap tenang sembari menggandeng tangan putrinya, Chela. Chela, gadis kecil berusia enam tahun itu, tampak begitu ceria. Sesekali ia melompat kecil, menggoyangkan boneka kelinci putih yang selalu menemaninya. “Kak Alea, kita beneran naik pesawat besar itu ya?” tanyanya dengan mata berbinar. Alea tersenyum, membelai lembut rambut hitam panjang Chela. “Iya sayang, kita naik pesawat besar. Nanti Chela bisa lihat awan dari jendela, seperti kapas.” “Yeeey!” s

