Flash kamera terakhir menyala, lalu mati. Seorang kru mengangguk cepat ke arah fotografer, dan tanda 'Selesai' pun diumumkan. Suasana studio perlahan mereda, digantikan oleh suara sepatu hak tinggi yang beradu dengan lantai beton. Alana duduk di depan cermin ruang rias, membiarkan asisten membuka jepit rambut satu per satu dari kepalanya. Gaun satin yang dikenakannya masih terjaga mulus, wajahnya tetap cantik sempurna—tapi pandangan matanya kosong. Kosong dan kesal. “Dia pergi.” Suaranya terdengar pelan, tapi dingin. “Siapa? Daska?” tanya Karin, teman model sekaligus sahabat dekatnya. Alana mengangguk pelan. “Dia benar-benar meninggalkan aku padahal dia sudah sangat keras di bawah sana.” Karin memutar tubuh, bersandar pada meja. “Jadi rencana pagi tadi gagal?” “Total gagal.” Alana me

