Cahaya pagi menyusup dari sela tirai jendela, lembut namun menyilaukan. Udara masih membawa sisa-sisa dingin malam, menyelimuti kamar Nea yang sunyi. Ia terbangun perlahan, kelopak matanya berkedip pelan sebelum akhirnya terbuka sepenuhnya. Pandangannya buram sesaat, lalu terarah pada langit-langit kamarnya yang tampak berbeda pagi ini—terasa lebih... sunyi. Lebih kosong. Namun yang benar-benar membuat jantungnya berdetak kencang bukanlah kesunyian itu, melainkan sensasi aneh yang membungkus tubuhnya. Kulitnya… telanjang. Hanya berbalut selimut tebal berwarna gading yang sedikit kusut karena ulah semalam, menguar aroma samar yang sangat ia kenal. Aroma Daska. Nea menahan napas. Otaknya mulai bekerja mundur, mencari potongan-potongan malam yang sebelumnya hanya terasa seperti mimpi. Ka

