Pagi itu, udara kantor terasa sedikit berbeda bagi Lily. Sinar matahari masuk melalui jendela kaca besar, memantul di lantai marmer yang mengilap, sementara aroma kopi segar dari pantry memenuhi lorong-lorong. Setelah seminggu lebih cuti karena sakit, ia menapaki lobi dengan langkah perlahan. Setiap langkah terasa berat—bukan karena penyakit yang masih sedikit tersisa, tetapi karena ketegangan yang tak terlihat: tatapan rekan-rekan kerja, bisik-bisik yang mulai terdengar samar, dan rumor yang sudah mulai beredar. Lily menahan napas sejenak sebelum memasuki lift. Ia tahu, selama seminggu ini, kabar tentang dirinya dan Ethan sudah pasti menyebar, meski sebagian orang masih hanya berspekulasi. Ia menutup mata sebentar, menenangkan diri, lalu menekan tombol lantai atas kantor. Begitu pintu l

