Victoria melangkah masuk ke rumah mewahnya setelah seminggu berada di Singapore. Lantai marmer berkilau di bawah cahaya lampu kristal, namun hatinya tidak damai. Sejak masuk pintu, ada rasa ketegangan yang tak bisa ia jelaskan—sebuah naluri yang membuatnya ingin memeriksa setiap sudut, setiap aroma, setiap tanda yang mungkin menunjukkan sesuatu yang tersembunyi. Victoria membuka lemari pakaian Ethan. Hatinya berdetak lebih cepat saat tangan menyingkirkan jas-jas rapi, kemeja putih yang tersusun rapi. Ia menarik salah satu baju Ethan keluar, mencium aroma yang samar tapi tidak bisa ia abaikan. Parfum itu—wangi yang familiar namun berbeda dari aroma biasa Ethan. “Tidak mungkin,” gumamnya pelan, bibirnya menipis. “Selama aku pergi, siapa yang terlalu dekat dengan Ethan?” Ia menurunkan kem

