Istriku, Dyah Agnya Chandra benar-benar penuh dengan kejutan. Saat aku memberinya peringatan agar tidak bertindak lebih jauh lagi justru mengundangku untuk menyentuhnya. Kini sentuhan demi sentuhan tangan lembut Dyah semakin membangkitkan hasrat yang selama ini terpendam. Tanganku terulur membelai pipinya yang bersemu merah, membelai lembut dengan ibu jari hingga warnanya menjadi merah merona. “Mas masih memintaku turun ke bawah membantu Mama?” bisiknya setelah mengecup pelipisnya. “Tidak akan aku biarkan kamu lolos, Hon!” Tangan kananku mendorong pelan tubuhnya hingga pelukan kami terlepas. Ku pandangi wajahnya yang berwarna merah dengan lekat. Dalam kondisi apapun dia tetap terlihat cantik. Dan, aku tak sabar untuk segera mencicipinya. Buka puasa pertamaku di pagi hari dalam kondisi

