Mereka bertemu lagi di kafe hari itu, setelah Refan selesai kuliah. Entah apa yang membuat Refan akhirnya setuju untuk bertemu. Dia hanya enggan berkali-kali dikirimi pesan dan panggilan suara oleh Lyra. Gadis itu seperti gemar menterornya. Refan memesan americano. Dia merasa membutuhkan kafein lebih untuk menghadapi semua kerandoman Lyra. Sementara Lyra, seperti biasa selalu memesan matcha. “Di coffe shop kok pesannya matcha.” “Biarin. Suka-suka. Aku yang minum, aku yang bayar. Gak usah kebanyakan komentar.” Refan hanya mencibir. Kepalanya yang mendidih karena tumpukan tugas seakan menemukan pendinginnya kini. Kombinasi kafein dan sikap santai Lyra seperti berlomba dengan suhu air conditioner untuk mendinginkan isi kepala Refan. Lyra menyedot matchanya. Tampak sekali gadis itu sedang

