Refan duduk di sisi teman satu timnya yang sedang memandangi ponselnya. Ia cukup senang hari ini, akhirnya tugasnya akan segera berakhir. Upacara penutupan orientasi mahasiswa akan segera dilaksanakan. “Fan, kamu tahu anak ini enggak? Aku kok kayak pernah lihat ya?” Refan menilik layar ponsel yang ditunjukkan rekannya. Dia mengernyit. Wajah itu seperti pernah ia kenali, tapi entah siapa. Seorang perempuan dengan rambut pendek dan wajah ceria. Refan berpikir keras. Wajah itu terlihat begitu natural dan percaya diri. Seandainya dipoles dengan make-up, pasti ia tak kalah cantik dengan artis ibukota. Tapi siapa teman-temannya yang memiliki wajah seperti itu. Kenapa ia seolah mengenalnya? “Kenal enggak?” Refan menggeleng. Otaknya seakan tak mampu memberikan sedikitpun clue untuknya. “T

